Kamis, 23 April 2009

"Tugas Manajemen Lahan" 23 April 2009

Topik :

PERANAN GEOGRAFI DALAM MANAJEMEN LAHAN

Judul Makalah :

BENCANA ALAM AKIBAT BURUKNYA MANAJEMEN LAHAN

ABSTRAK

Banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak luput dari campur tangan manusia. Secara langsung dan tidak langsung pembangunan yang direncanakan dan di laksanakan oleh manusia sangat menentukan keadaan alam di masa yang akan datang. Dalam hal ini peranan ilmu geografi sangat penting untuk mempelajari keadaan alam dan menentukan jenis-jenis pengelolaan dan penggunaan lahan atau yang biasa disebut dengan manajemen lahan. Makalah ini dibuat untuk menganalisa penggunaan-pemggunaan lahan yang telah dilakukan dengan pendekatan-pendekatan geografi berdasarkan beberapa bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia yang disebabkan oleh kesalahan dalam manajemen lahan.

Kata kunci : Manajemen lahan, Bencana alam, Ilmu Geografi


PENDAHULUAN

Banjir yang marak terjadi di Jakarta, Semarang dan beberapa kota lainnya. Jebolnya tanggul Situ Gintung, Tanah longsor, penurunan hasil produksi pertanian dan perkebunan, lahan kering dan berbagai macam bencana yang terjadi lainnya membuat kita selalu bertanya-tanya siapakah yang menjadi dalang dari semua bencana yang terjadi ini? Siapa yang akan bertanggung jawab? Dan bagaimana penanganannya?

Tentu saja kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Sebab, segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada penyebabnya. Hanya saja kita tidak terlalu mengamati tentang apa yang menyebabkan semua itu bisa terjadi melainkan hanya mencari siapa yang salah dan siapa yang akan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Seharusnya kita menyadari bahwa kita semua turut berperan terhadap kelestarian alam kita dan bertanggung jawab atas keutuhannya.

Peran kita dalam pelestarian ini tidak harus secara langsung turun kelapangan untuk merealisasikan pemikiran-pemikiran kita. Seminimal mungkin perbuatan yang harus kita lakukan adalah cukup untuk mengerti akan kondisi alam dan bagaimana cara pemanfaatannya. Beberapa ilmu yang berkaitan dengan hal ini telah kita ketahui bersama dan kita juga sering mendapatkan informasi-informasi lain dari pihak-pihak keiga seperti misalnya dari buku, selebaran, internet dan obrolan.

Ilmu-ilmu yang kita dapatkan tersebut, apabila kita telusuri induknya akan bertemu pada satu rangkai kata yaitu Geografi. Secara harfiah Geografi diartikan Tulisan / Penjelasan tentang bumi. Dengan demikaian bisa kita pahami bahwa Geografi adalah studi tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas bumi. Dari pengertian itu bisa kita simpulkan bahwa dengan mempelajari sedikit tentang Geografi, kita telah berperan dalam pengelolaan serta pemmanfaatan lahan yang ada dimuka bumi ini dan dengan demikian kita dapat mencegah terjadinya bencana-bencana yang mungkin terjadi akibat dari kesalahan dalam manajemen lahan.


KERANGKA PEMIKIRAN

Geografi adalah studi tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas bumi. Geografi memiliki beberapa cabang ilmu yang lebih memfokuskan pembahasannya kepada lingkup tertentu yaitu :

Geografi Fisik yang memusatkan pada geografi sebagai ilmu bumi yang mempelajari tentang flora, fauna (biologi), Pergerakan bumi dan hubungannya dengan anggota tata surya yang lain(matematika & Fisika), serta ekologi di muka bumi.

Geografi Manusia yang memusatkan kepada aspek non fisik (manusia secara politik, sosial dan budaya) yang menyebabkan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia.

Perencanaan Wilayah merupakan aplikasi dari ilmu Geografi yang diterapkan langsung untuk memanfaatkan ketersediaan lahan di muka bumi.

Dari ketiga cabang ilmu Geografi yang disebutkan di atas memiliki saling keterkaitan yang erat dalam penanggulangan Bencana alam yang mungkin terjadi. Dengan menerapkan analisa yang di gunakan pada kajian ilmu Geografi dengan tepat, maka segala sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dapat diprediksikan sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana alam di masa yang akan datang.


HASIL DAN PEMBAHASAN

Contoh Kasus :

1. Banjir Jakarta

Jakarta - Seperti tahun-tahun sebelumnya awal tahun 2009 ini lagi-lagi Ibu Kota Jakarta dilanda banjir. Bahkan, banjir belakangan ini tak hanya terjadi di musim hujan.

Di musim panas pun kalau hujan deras mengguyur Kota Jakarta beberapa jam saja sudah mengakibatkan banjir sehingga dapat disimpulkan bahwa banjir di Jakarta saat ini bukan hanya disebabkan oleh banjir kiriman atau siklus lima atau seratus tahunan tetapi memang karena kondisi lingkungan di Jakarta. (Abdul Majid K – suaraPembaca, Rabu, 28/01/2009).

Dari pernyataan tersebut telah dapat kita ambil kesimpulan bahwa banjir di Jakarta bukanlah banjir musiman atau pun kiriman, tetapi memang disebabkan oleh ketidak sesuaiannya lingkungan terhadap penanyaluran genangan air. Hal ini menyebabkan air hasil presipitasi yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta tidak dapat diserap oleh tanah atupun tidak dapat di alirkan dengan baik menuju lokasi penyaluran akhir yaitu muara sungai. Tetapi, apabila kita perhatikan lebih cermat lagi, malah aliran air tersebut terlihat begitu sulitnya untuk mencapai ke saluran utama menuju muara yaitu menuju sungai-sungai yang ada di Jakarta ini.

Kondisi yang dapat kita ambil dari fenomena ini adalah tidak berfungsi dengan baiknya system drainase di kota ini. Kondisi ini dibuktikan oleh suatu solusi yang pernah dilakukan yaitu pendalaman sungai hingga 7 meter di setiap aliran sungai yang ada di Jakarta tetapi tidak menuntaskan masalah banjir ini, dengan kata lain banjir tetap saja terjadi.

Dalam ilmu Geografi, dipelajari tentang daya serap tanah terhadap air yang mengenainya (infiltrasi). Apa bila tanah sudah berada pada titik jenuh pada daya serapna atau pun terdapat material penghalang yang menutupi tanah, maka fungsi tanah sebagai penyerap air hujan tidak akan dapat berlangsung maksimal. Kondisi tersebut akan menimbulkan genangan yang semakin besar intensitasnya akan menjadi banjir.

Sedangkan dalam Perencanaan Wilayah, dipelajari tentang bagaimana cara merencanakan pembangunan kota dengan drainase yang baik dan efisien. Hal apa saja yang harus di hindari dan dilakukan, Pendekatan apa yang tepat agar perkembangan kota tersebut dapat mencapai maksimal tetapi mengurangi resiko negative yang akan ditimbulkan.

Dengan memahami kemampuan lahan yang ada, dengan pendekatan Geografi, kita dapat mengklasifikasikan pembagian lahan serta dapat kita analisa jenis pembangunan apa yang tepat dilakukan pada masing-masing klasifikasi lahan. Pengaturan-pengaturan seperti itu yang kita sebut manajemen penggunaan lahan untuk menghasilkan pembangunan yang tepat dilakukan pada jenis-jeis dan karakteristik masing-masing lahan.

2. Jebolnya Tanggul Situ Gintung

“Saat hujan kemarin begitu besar, terjadi kenaikan muka air. Sehingga air naik dan terjadi limpasan di atas tubuh bendungan. Sehingga tergerus dan longsor. Tanggul manapun pasti akan jebol kalau terjadi pelimpasan,” jelas Sutoyo. Dia menambahkan, volume air situ yang melimpas tanggul sebanyak 1 juta meter kubik air dari situ yang seluas 21 hektar.

Saat kita melihat profil bendungan dan material yang menyusun bendungan dan daerah sekitarnya kita akan dapat mengetahui bahwa bagian terdalam dari Situ Gintung tersebut merupakan material sedimen dari aliran sungai. Tentu saja itu merupakan bagian terlemah karena bukan merupakan material cadas yang keras dan tangguh.

Dengan kondisi yang demikian, ketinggian bendungan akan sangat menentukan kekuatan bendung dari tanggul ini. Semakin tinggi bendungan, maka semakin memberikan tekanan pada dasar bendungan. Dorongan atau tekanan air dari dalam akan mempengaruhi secara langsung. Saat permukaan air semakin tinggi, menunjukkan volume air juga semakin besar akan menuntun tanggul pada batas maksimal menahan tekanan dari air tersebut.

Dari beberapa informasi dikatakan bahwa, sebelumnya telah ditemukan retakan pada dasar bendungan. Tentu saja ini mengurangi batas kekuatan maksimal tanggul untuk menahan tekanan air. Yang berarti bisa saja saat ketinggian permukaan air belum mencapai batas ambang kekuatan sebenarnya, tanggul sudah berada pada titik ambang tersebut dan tidak kuat lagi menahan tekanan air yang mengenainya. Keadaan seperti itulah yang terjadi.

Apabila kita cermati lagi, Geografi merupakan ilmu yang membahas tentang bumi, dengan demikian, dengan Geografi seharusnya telah mengerti akan karakteristik material yang menyusun bendungan Situ Gintung dan daerah di sekitarnya. Seperti, Material endapan sungai merupakan material lunak yang tingkat kerapatan antar molekul pengikatnya sangat rendah, sehingga daya tahan terhadap tekanannya juga sangat kecil dengan kata lain adalah lentur tetapi getas. Sudah tentu material ini sangat memerlukan perhatian khusus apabila akan dibuatkan bendungan di atasnya. Selain itu, material sedimen juga memiliki pergerakan yang aktif mengikuti aliran air yang mengenainya. Kondisi itu akan memberikan tambahan tekanan terhadap bendungan. Berat jenis air yang merupakan material utama yang akan dibendung mendapat tambahan dari material sedimen yang menjadikan berat jenis air itu sendiri bertambah. Bertambahnya berat jenis air berbanding lurus dengan tekanan yang diberikan.

Apabila kita telah memahami akan konsep tersebut, tentu kita akan mencari jenis perencanaan pembangunan apa yang cocok dilakukan di daerah seperti itu. Selain merencanakan pembangunan, kita juga bisa memilih dan mengatur penggunaan lahan serta pengelolaan lahan di daerah sekitar bendungan.

3. Penurunan Komoditas Pertanian dan Perkebunan di Indonesia

Mengapa swasembada beras dapat dicapai di masa pemerintahan Soeharto dan sulit terwujud untuk saat ini ? Sejak awal, swasembada beras selalu menjadi tujuan pemerintah Indonesia. Pada awal tahun 60-an masa pemerintahan Soekarno, setiap tahun mengimpor beras sebanyak sejuta ton secara teratur untuk menghindari kelaparan dan menenangkan orang kota. (Patrice Levang ; 2003).

Pembangunan yang berlangsung begitu cepat dan seolah-olah mengejar suatu target pembangunan menjadi faktor utama mengapa produksi beras dan hasil perkebunan menurun di Indonesia. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terlalu terfokus kepada pembangunan infrastruktur. Sebagai Negara berkembang, pembangunan infrastruktur memang sangat diperlukan. Infrasruktur yang dibangun diharapkan dapat menjadi modaluntuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Tetapi, strategi pembangunan yang kurang mantab dan terkesan asal bangun malah menjerumuskan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pokok kehidupan yaitu hasil pertanian.

Pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum pendukung dilakukan hanya berdasarkan dari analisa letak yang strategis terhadap akses antar daerah tetapi kurang memperhatikan penempatan lokasi berdasarkan material penyusun lahan yang dibangun. Seandainya manajemen lahan dilakukan dengan tepat, maka pembangunan-pembangunan yang dilakukan akan mencapai titik optimal pada setiap sektor komoditas utama penentu kesejahteraan masyarakat.

Maksudnya, saat klasifikasi lahan dilakukan terlebih dahulu, maka analisa perencanan pembangunan wilayah dapat dilakukan untuk menentukan jenis pembangunan yang cocok pada masing-masing karakteristik lahan. Sesuai dengan dasar ilmu tanah dan geologi, alangkah baiknya apabila karakteristik lahan yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi tidak dibangun gedung, tetapi tetap difokuskan kepada peningkatan mutu tanaman (pertanian dan perkebunan). Dengan lebih spesifik lagi dilakukan klasifikasi lahan pertanian dan perkebunan akan ditemukan pasangan paling klop antara karakteristik lahan dengan tanaman yang akan ditanam. Dengan demikian, peningkatan mutu pertanian dan perkebunan akan lebih terfokus dan terus mengalami peningkatan.

Sedangkan untuk bangunan gedung lainnya dilakukan pada karakteristik lahan yang memiliki tingkat kesuburan lebih rendah. Sebab, pancingan satu jenis pembangunan gedung pada lahan subur, akan mendorong pembangunan gedung lain pada area yang berdekatan dan terus semakin intens. Dengan demikian, cepat atau lambat, dengan dipengaruhi fragmentasi lahan maka akan terjadi pengurangan luasan lahan subur secara terus menurus. Akibatnya, perlahan-lahan akan terjadi degradasi lahan yang terus memicu penurunan jumlah produksi pertanian secara nasional.

Lalu solusi yang dapat kita ambil adalah lebih memperhatikan karakteristik lahan dalam melakukan pembangunan dan jangan menyusup menuju lahan pertanian untuk mengkonversinya menjadi lahan terbangun. Klasifikasi jenis tanah untuk setiap jenis tanaman agar hasil produksi meningkat.


KESIMPULAN

1. Geografi merupakan ilmu yang dapat dijadikan dasar dalam manajemen lahan. Karena di dalam Geografi dipelajari tentang ilmu kebumian baik abiotik dan biotik serta hubungan dan interaksi yang terjadi di antara keduanya. Geografi juga memiliki studi aplikatif manajemen penggunaan lahan yaitu Perencanaan Pembangunan Wilayah.

2. Bencana alam yang terjadi di Indonesia sebagian besar berkaitan dengan kesalahan dalam manajemen lahan. Sehingga memicu bencana yang seharusnya dapat dihindari.

3. Klasifikasi lahan menurut karakteristik dan tujuan tertentu dapat membantu dan mempermudah dalam proses manajemen lahan untuk mendapatkan kesesuaian antara penggunaan lahan dengan karakteristik lahannya.

4. Perencanaan Pembangunan dengan menggunakan pendekatan Geografi akan memberikan masukan yang jelas akan hasil yang akan didapat pada kemudian hari.

5. Konsep Geografi dapat di aplikasikan pada setiap aspek kehidupan.


DAFTAR PUSTAKA

Rovicky., 2009. Kesamaan LuSi yang bandel dan Si Gintung ketika marah: http://rovicky.wordpress.com/2009

Ismail, Rachmadin. 2009. LIPI Teliti Penyebab Jebolnya Tanggul Situ Gintung : detikNews. http://www.detiknews.com/

Majid K, Abdul. 2009. Mencari Solusi Banjir Jakarta : suratPembaca. http://suarapembaca.detik.com/

http://www.geografiana.com/


Rabu, 22 April 2009

Tugas ESW 2009

Topik:
SUMBER DAYA BUATAN DAN HUBUNGANNYA DENGAN TINGKAT PERKEMBANGAN WILAYAH

Judul:
PEMANFAATAN SUMBER DAYA BUATAN SEBAGAI PENUNJANG PEMBANGUNAN WILAYAH

Abstrak :
Selain sumber daya alam yang memiliki kontribusi terbesar dalam pendapatan daerah dengan berbagai macam pemanfaatannya juga terdapat sumber daya lain yang apa bila dapat dikelola dengan baik akan memberikan kontribusi yang besar pula kepada daerah yaitu sumber daya buatan. Dengan menerapkan pemanfaatan terhadap sumber daya buatan akan mengurangi eksploitasi sumber daya alam sehingga tetap dapat menjaga keseimbangan ekosistem suatu wilayah.

Kata Kunci :
Kontribusi Sumber daya buatan, Tingkat perkembangan wilayah, Keseimbangan ekosistem

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan dari daya dukungnya. Dari posisi sumber daya buatan yang merupakan usaha lain untuk menunjang dalam peningkatan mutu sumber daya hayati atau pun non hayati tersebut menjadikan sumber daya buatan kurang diperhatikan dalam pelestariannya. Padahal, apabila terdapat keseimbangan dalam pengelolaan, pelestarian dan pemanfaatan antara ke tiga jenis sumber daya tersebut, maka hasil yang di dapat akan meningkat dan lebih luas cakupannya.
Sementara kebanyakan wilayah banyak mengesampingkan akan pengelolaan sumber daya buatan tersebut dan lebih terfokus kepada pemanfaatan sumber daya alam yang dimiliki oleh masing-masing wilayah. Dengan demikian eksploitasi berlebihan terhadap sumber daya alam akan terus dilakukan demi meningkatkan pendapatan daerah untuk membiayai pembangunan wilayahnya.
Pembangunan dari segala sektor terutama infrastruktur wilayah dilakukan untuk memajukan wilayahnya, pendanaan pembangunan semakin besar yang dibutuhkan dikarenakan krisis yang terjadi melambungkan harga bahan-bahan dasar yang akan digunakan. Dengan demikian, eksploitasi sumber daya alam akan terus gencar dilakukan. Padahal, tingkat perkembangan wilayah tidak hanya dilakukan pada sektor pembangunan infrstruktur saja. Tingkat kelestarian dan keseimbangan ekosistem juga menjadi salah satu indikator bahwa suatu wilayah tersebut sudah mengalami perkembangan. Hal tersebut dilihat dari cara pengelolaan intensif dan efisien terhadap alam agar tetap menjadi sumber penghidupan manusia dan makhluk hidup lainnya.
Apa gunanya pembangunan apa bila hanya dilakukan secara fisik saja tanpa memperhatikan dampak non-fisik yang mungkin terjadi seperti polusi dan penyebaran wabah penyakit. Oleh sebab itu, dengan memanfaatkan, pengelolaaan dan pelestarian sumber daya buatan akan sangat membantu dalam penanganan pembangunan dan keseimbangan ekosistem yang terancam oleh eksploitasi sumber daya alam yang berlebihan.


I.2 Tujuan
Makalah ini dibuat dengan tujuan sebagai berikut
- Mengerti bahwa Sumber daya buatan juga dapat menunjang pendapatan wilayah untuk pembiayaan pembangunan
- Mengerti bahwa tingkat perkembangan suatu wilayah tidak hanya di tandai dengan banyakya infrastruktur yang dibangun
- Memenuhi tugas Ujian tengah Semester mata kuliah Evaluasi Sumberdaya Wilayah

BAB II
DASAR TEORI

Konsep pengembangan wilayah di Indonesia memiliki beberapa perkembangan dari masa-kemasa yang sangat mempengaruhi proses perkembangan suatu wilayah. Konsep yang dipakai dalam makalah ini juga berdasarkan dari konsep-konsep terdahulu antara lain :
- Walter Isard sebagai pelopor Ilmu Wilayah yang mengkaji terjadinya hubungan sebab-akibat dari faktor-faktor utama pembentuk ruang wilayah, yakni faktor fisik, sosial-ekonomi, dan budaya.
Teori ini menjelaskan bahwa ketiga faktor utam pembentuk ruang wilayah itu tidak dapat dipisahkan, sehingga sangat perlu untuk menjaga keseimbangan antara ke tiganya tersebut.
- Friedmann (era 1960-an) yang lebih menekankan pada pembentukan hirarki guna mempermudah pengembangan sistem pembangunan yang kemudian dikenal dengan teori pusat pertumbuhan.
Teori ini lebih menjelaskan tentang prioritas pembangunan yang akan dilakukan sehingga pembangunan suatu wilayah nantinya tidak salah sasaran dan wilayah yang dipilih dapat mempengaruhi pertumbuhan di wilayah-wilayah sekitarnya.
- Sutami (era 1970-an) menyampaikan gagasan bahwa pembangunan infrastruktur yang intensif untuk mendukung pemanfaatan potensi sumberdaya alam akan mampu mempercepat pengembangan wilayah.
Teori ini menjelaskan tentang pembangunan infrastruktur akan merangsang pembangunan-pembangunan pada sektor-sektor lainnya.
- Pada era 90-an, konsep pengembangan wilayah mulai diarahkan untuk mengatasi kesenjangan wilayah, misal antara KTI dan KBI, antar kawasan dalam wilayah pulau, maupun antara kawasan perkotaan dan perdesaan. Perkembangan terakhir pada awal abad millennium, bahkan, mengarahkan konsep pengembangan wilayah sebagai alat untuk mewujudkan integrasi Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Berdasarkan teori pengembangan wilayah di atas, secara konseptual pengertian pengembangan wilayah dapat dirumuskan sebagai rangkaian upaya untuk mewujudkan keterpaduan dalam penggunaan berbagai sumber daya, merekatkan dan menyeimbangkan pembangunan nasional dan kesatuan wilayah nasional, meningkatkan keserasian antar kawasan, keterpaduan antar sektor pembangunan melalui proses penataan ruang dalam rangka pencapaian tujuan pembangunan yang berkelanjutan.
Dalam usaha dalam pengembangan suatu wilayah terdapat suatu keterkaitan yang sangat erat dengan penataan ruang suatu wilayah. Dengan penataan yang baik, maka kinerja wilayah tersebut juga akan optimal dan efisien. Sehingga dalam penataan ruang suatu wilayah harus memenuhi beberapa prinsip penataan ruang wilayah yaitu :
(a) proses perencanaan tata ruang wilayah, yang menghasilkan rencana tata ruang wilayah (RTRW). Disamping sebagai “guidance of future actions” RTRW pada dasarnya merupakan bentuk intervensi yang dilakukan agar interaksi manusia/makhluk hidup dengan lingkungannya dapat berjalan serasi, selaras, seimbang untuk tercapainya kesejahteraan manusia/makhluk hidup serta kelestarian lingkungan dan keberlanjutan pembangunan (development sustainability).
(b) proses pemanfaatan ruang, yang merupakan wujud operasionalisasi rencana tata ruang atau pelaksanaan pembangunan itu sendiri,
(c) proses pengendalian pemanfaatan ruang yang terdiri atas mekanisme perizinan dan penertiban terhadap pelaksanaan pembangunan agar tetap sesuai dengan RTRW dan tujuan penataan ruang wilayahnya.

BAB III
PEMBAHASAN

Pembangunan yang dilakukan di kota-kota pada saat sekarang ini telah mencapai tingkat yang cukup memprihatinkan. Sebagian besar kota melakukan perombakan dan atau penambahan infrastruktur secara massal dengan tujuan untuk melengkapi segala kebutuhan-kebutuhan primer suatu wilayah untuk menjadi lebih maju dan berkembang. Padahal tingkat perkembangan suatu wilayah tersebut tidak hanya diihat dari banyaknya infrastruktur yang telah dibangun, tetapi juga dilihat dari keseimbangan ekosistem alamnya. Tetapi pada kenyataannya banyak pembangunan yang dilakukan pada saat ini tidak memperdulikan tentang keseimbangan alam yang ada. Sumber pendanaan daerah yang hampir seluruhnya berasal dari pendapatan asli daerah (PAD) tersebut hanya digunakan untuk membangun tetapi tidak untuk mengelola. Hal tersebut mengakibatkan banyaknya kerusakan yang terjadi kepada alam.
Hal tersebut sesuai seperti apa yang dikatakan oleh Presiden Republik Indonesia dalam sambutannya pada saat Rapat Kerja Nasional Badan Koordinasi Tata Ruang Nasional baru-baru ini di Surabaya menegaskan beberapa isu strategis dalam penyelenggaraan penataan ruang nasional saat ini, yakni :
(a) terjadinya konflik kepentingan antar-sektor, seperti pertambangan, lingkungan hidup, kehutanan, prasarana wilayah, dan sebagainya,
(b) belum berfungsinya secara optimal penataan ruang dalam rangka menyelaraskan, mensinkronkan, dan memadukan berbagai rencana dan program sektor tadi,
(c) terjadinya penyimpangan pemanfaatan ruang dari ketentuan dan norma yang seharusnya ditegakkan. Penyebabnya adalah inkonsistensi kebijakan terhadap rencana tata ruang serta kelemahan dalam pengendalian pembangunan,
(d) belum tersedianya alokasi fungsi-fungsi yang tegas dalam RTRWN,
(e) belum adanya keterbukaan dan keikhlasan dalam menempatkan kepentingan sektor dan wilayah dalam kerangka penataan ruang, serta
(f) kurangnya kemampuan menahan diri dari keinginan membela kepentingan masing-masing secara berlebihan.

Dari isu-isu yang di dapat tersebut jelas membuktikan bahwa pembangunan yang dilakukan saat ini didanai oleh PAD yang sebagian besar berasal dari pemanfaatan sumber daya alam yang berlebihan. Dengan demikian dibutuhkan suatu alternatif yang sangat fungsional untuk mengatasi dan memberikan solusi dari isu-isu yang terjadi. Dalam kaitannya dengan Pendapatan Asli Daerah dan sumber daya alam, sebenarnya terdapat satu jenis sumber daya yang sebenarnya memiliki peranan yang sangat penting apa bila dikelola dengan baik juga akan memberikan kontribusi yang sangat besar untuk wilayahnya. Disamping itu juga bisa menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut. Sumber daya tersebut adalah Sumber daya Buatan.
Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan daya dukungnya. Pengertian tersebut di atas menggambarkan bahwa sumber daya buatan adalah sumber daya alam yang karena intervensi manusia telah berubah menjadi sumber daya buatan. Bentuk sumber daya buatan ini dapat dilihat pada kawasan budidaya, kawasan perdesaan, kawasan perkotaan, maupun kawasan cagar alam. Fungsi kawasan-kawasan tersebut dapat sebagai pelindung kelestarian lingkungan hidup, dibudidayakan, permukiman, pelayanan jasa pemerintahan, pelayanan sosial, dan kegiatan ekonomi untuk kesejahteraan manusia dan kesinambungan pembangunan.
Aktifitas manusia dalam pertambangan termasuk dalam usaha eksploitasi sumber daya alam. Kurangnya kesadaran yang di miliki oleh manusia tersebut, membuatnya terlena sehingga saat eksploitasi itu dilakukan, mereka tetap tidak menyadari berapa besar kerusakan yang telah ditimbulkan oleh aktifitasnya tersebut. Selain itu juga tidak terwujud suatu usaha untuk reklamasi atau perbaikan lahan eks lokasi penambangan tersebut. Tentu saja kondisi ini tidak hanya merusak lahan tetapi juga ekosistem yang hidup dan bergantung kepada alam yang ada di area sekitar pertambangan.
Bayangkan apabila dalam suatu wilayah terdapat lebih dari satu kegiatan pertambangan seperti ini? Begitu banyak keuntungan materil yang didapat tetapi begitu besarnya pula kerugian immaterial yang di terima oleh wilayah tersebut. Kemudian, bayangkan kembali apabila terdapat lebih dari satu kegiatan pertambangan seperti ini dalam suatu wilayah. Tetapi dengan kondisi yang berbeda yang telah terprogram dengan rapi sehingga dapat meminimalisir kerusakan alam yang mungkin terjadi. Kondisi tersebut akan memberikan dua keuntungan besar sekaligus baik secara materil maupun immaterial.
Sebagai indikator lain, pemanfaatan sumber daya buatan akan lebih efisien apa bila dapat di manfaatkan dan dikelola dengan baik. Tentu dengan pengelolaan yang baik akan menghasilkan keuntungan yang besar. Keseimbangan ekosistem tetap terjaga. Pendapatan daerah sebagai sumber utama biaya pembangunan wilayah juga akan tetap terpenuhi.

BAB IV
PENUTUP

IV. 1 Kesimpulan

- Tingkat perkembangan suatu wilayah tidak hanya dinilai secara fisik atau pembangunan infrastruktur saja, tetapi juga dilihat dari keseimbangan ekosistemnya
- Sumber daya buatan adalah hasil pengembangan buatan dari sumber daya alam hayati atau non hayati yang ditunjuk untuk meningkatkan kualitas, kuantitas dan atau kemampuan daya dukungnya yang dalam pemanfaatan dan pengelolaannya dapat menunjang tingkat perkembangan wilayah dengan tetap menjaga keseimbangan ekosistem di wilayah tersebut.
- Hubungan antara Sumber Daya Buatan dengan Tingkat Perkembangan wilayah merupakan salah satu faktor penunjang perkembangan suatu wilayah yang memberikan kontribusi besar terhadap pembangunan wilayah tersebut.

DAFTAR PUSTAKA

Sofa, Pakde., “Konservasi Sumber Daya Alam Dan Buatan”, http://massofa.wordpress.com/2008/02/03/konservasi-sumber-daya-alam-dan-buatan/, 2008.
Riadi, Ahmad, S.Si., “PERAN LABORATORIUM LINGKUNGAN DALAM PEMBANGUNAN YANG BERWAWASAN LINGKUNGAN”, http://enviroriadi.blog.friendster.com/2008/08/enviro/, 2007
Noor, Henry. F ., “Investasi dan Peran Pemerintah”, http://unisosdem.org/kliping_detail.php?aid=8382&coid=1&caid=28, 2007