Topik :
PERANAN GEOGRAFI DALAM MANAJEMEN LAHAN
Judul Makalah :
BENCANA ALAM AKIBAT BURUKNYA MANAJEMEN LAHAN
ABSTRAK
Banyaknya bencana alam yang terjadi di Indonesia tidak luput dari campur tangan manusia. Secara langsung dan tidak langsung pembangunan yang direncanakan dan di laksanakan oleh manusia sangat menentukan keadaan alam di masa yang akan datang. Dalam hal ini peranan ilmu geografi sangat penting untuk mempelajari keadaan alam dan menentukan jenis-jenis pengelolaan dan penggunaan lahan atau yang biasa disebut dengan manajemen lahan. Makalah ini dibuat untuk menganalisa penggunaan-pemggunaan lahan yang telah dilakukan dengan pendekatan-pendekatan geografi berdasarkan beberapa bencana alam yang pernah terjadi di Indonesia yang disebabkan oleh kesalahan dalam manajemen lahan.
Kata kunci : Manajemen lahan, Bencana alam, Ilmu Geografi
PENDAHULUAN
Banjir yang marak terjadi di Jakarta, Semarang dan beberapa kota lainnya. Jebolnya tanggul Situ Gintung, Tanah longsor, penurunan hasil produksi pertanian dan perkebunan, lahan kering dan berbagai macam bencana yang terjadi lainnya membuat kita selalu bertanya-tanya siapakah yang menjadi dalang dari semua bencana yang terjadi ini? Siapa yang akan bertanggung jawab? Dan bagaimana penanganannya?
Tentu saja kondisi tersebut tidak terjadi begitu saja. Sebab, segala sesuatu yang terjadi itu pasti ada penyebabnya. Hanya saja kita tidak terlalu mengamati tentang apa yang menyebabkan semua itu bisa terjadi melainkan hanya mencari siapa yang salah dan siapa yang akan bertanggung jawab atas dampak yang ditimbulkan oleh kejadian tersebut. Seharusnya kita menyadari bahwa kita semua turut berperan terhadap kelestarian alam kita dan bertanggung jawab atas keutuhannya.
Peran kita dalam pelestarian ini tidak harus secara langsung turun kelapangan untuk merealisasikan pemikiran-pemikiran kita. Seminimal mungkin perbuatan yang harus kita lakukan adalah cukup untuk mengerti akan kondisi alam dan bagaimana cara pemanfaatannya. Beberapa ilmu yang berkaitan dengan hal ini telah kita ketahui bersama dan kita juga sering mendapatkan informasi-informasi lain dari pihak-pihak keiga seperti misalnya dari buku, selebaran, internet dan obrolan.
Ilmu-ilmu yang kita dapatkan tersebut, apabila kita telusuri induknya akan bertemu pada satu rangkai kata yaitu Geografi. Secara harfiah Geografi diartikan Tulisan / Penjelasan tentang bumi. Dengan demikaian bisa kita pahami bahwa Geografi adalah studi tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas bumi. Dari pengertian itu bisa kita simpulkan bahwa dengan mempelajari sedikit tentang Geografi, kita telah berperan dalam pengelolaan serta pemmanfaatan lahan yang ada dimuka bumi ini dan dengan demikian kita dapat mencegah terjadinya bencana-bencana yang mungkin terjadi akibat dari kesalahan dalam manajemen lahan.
KERANGKA PEMIKIRAN
Geografi adalah studi tentang lokasi dan variasi keruangan atas fenomena fisik dan manusia di atas bumi. Geografi memiliki beberapa cabang ilmu yang lebih memfokuskan pembahasannya kepada lingkup tertentu yaitu :
Geografi Fisik yang memusatkan pada geografi sebagai ilmu bumi yang mempelajari tentang flora, fauna (biologi), Pergerakan bumi dan hubungannya dengan anggota tata surya yang lain(matematika & Fisika), serta ekologi di muka bumi.
Geografi Manusia yang memusatkan kepada aspek non fisik (manusia secara politik, sosial dan budaya) yang menyebabkan fenomena-fenomena yang terjadi di dunia.
Perencanaan Wilayah merupakan aplikasi dari ilmu Geografi yang diterapkan langsung untuk memanfaatkan ketersediaan lahan di muka bumi.
Dari ketiga cabang ilmu Geografi yang disebutkan di atas memiliki saling keterkaitan yang erat dalam penanggulangan Bencana alam yang mungkin terjadi. Dengan menerapkan analisa yang di gunakan pada kajian ilmu Geografi dengan tepat, maka segala sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang dapat diprediksikan sehingga bisa dilakukan tindakan-tindakan pencegahan untuk meminimalisir kemungkinan terjadinya bencana alam di masa yang akan datang.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Contoh Kasus :
1. Banjir Jakarta
Jakarta - Seperti tahun-tahun sebelumnya awal tahun 2009 ini lagi-lagi Ibu Kota Jakarta dilanda banjir. Bahkan, banjir belakangan ini tak hanya terjadi di musim hujan.
Di musim panas pun kalau hujan deras mengguyur Kota Jakarta beberapa jam saja sudah mengakibatkan banjir sehingga dapat disimpulkan bahwa banjir di Jakarta saat ini bukan hanya disebabkan oleh banjir kiriman atau siklus lima atau seratus tahunan tetapi memang karena kondisi lingkungan di Jakarta. (Abdul Majid K – suaraPembaca, Rabu, 28/01/2009).
Dari pernyataan tersebut telah dapat kita ambil kesimpulan bahwa banjir di Jakarta bukanlah banjir musiman atau pun kiriman, tetapi memang disebabkan oleh ketidak sesuaiannya lingkungan terhadap penanyaluran genangan air. Hal ini menyebabkan air hasil presipitasi yang terjadi di beberapa wilayah di Jakarta tidak dapat diserap oleh tanah atupun tidak dapat di alirkan dengan baik menuju lokasi penyaluran akhir yaitu muara sungai. Tetapi, apabila kita perhatikan lebih cermat lagi, malah aliran air tersebut terlihat begitu sulitnya untuk mencapai ke saluran utama menuju muara yaitu menuju sungai-sungai yang ada di Jakarta ini.
Kondisi yang dapat kita ambil dari fenomena ini adalah tidak berfungsi dengan baiknya system drainase di kota ini. Kondisi ini dibuktikan oleh suatu solusi yang pernah dilakukan yaitu pendalaman sungai hingga 7 meter di setiap aliran sungai yang ada di Jakarta tetapi tidak menuntaskan masalah banjir ini, dengan kata lain banjir tetap saja terjadi.
Dalam ilmu Geografi, dipelajari tentang daya serap tanah terhadap air yang mengenainya (infiltrasi). Apa bila tanah sudah berada pada titik jenuh pada daya serapna atau pun terdapat material penghalang yang menutupi tanah, maka fungsi tanah sebagai penyerap air hujan tidak akan dapat berlangsung maksimal. Kondisi tersebut akan menimbulkan genangan yang semakin besar intensitasnya akan menjadi banjir.
Sedangkan dalam Perencanaan Wilayah, dipelajari tentang bagaimana cara merencanakan pembangunan kota dengan drainase yang baik dan efisien. Hal apa saja yang harus di hindari dan dilakukan, Pendekatan apa yang tepat agar perkembangan kota tersebut dapat mencapai maksimal tetapi mengurangi resiko negative yang akan ditimbulkan.
Dengan memahami kemampuan lahan yang ada, dengan pendekatan Geografi, kita dapat mengklasifikasikan pembagian lahan serta dapat kita analisa jenis pembangunan apa yang tepat dilakukan pada masing-masing klasifikasi lahan. Pengaturan-pengaturan seperti itu yang kita sebut manajemen penggunaan lahan untuk menghasilkan pembangunan yang tepat dilakukan pada jenis-jeis dan karakteristik masing-masing lahan.
2. Jebolnya Tanggul Situ Gintung
“Saat hujan kemarin begitu besar, terjadi kenaikan muka air. Sehingga air naik dan terjadi limpasan di atas tubuh bendungan. Sehingga tergerus dan longsor. Tanggul manapun pasti akan jebol kalau terjadi pelimpasan,” jelas Sutoyo. Dia menambahkan, volume air situ yang melimpas tanggul sebanyak 1 juta meter kubik air dari situ yang seluas 21 hektar.
Saat kita melihat profil bendungan dan material yang menyusun bendungan dan daerah sekitarnya kita akan dapat mengetahui bahwa bagian terdalam dari Situ Gintung tersebut merupakan material sedimen dari aliran sungai. Tentu saja itu merupakan bagian terlemah karena bukan merupakan material cadas yang keras dan tangguh.
Dengan kondisi yang demikian, ketinggian bendungan akan sangat menentukan kekuatan bendung dari tanggul ini. Semakin tinggi bendungan, maka semakin memberikan tekanan pada dasar bendungan. Dorongan atau tekanan air dari dalam akan mempengaruhi secara langsung. Saat permukaan air semakin tinggi, menunjukkan volume air juga semakin besar akan menuntun tanggul pada batas maksimal menahan tekanan dari air tersebut.
Dari beberapa informasi dikatakan bahwa, sebelumnya telah ditemukan retakan pada dasar bendungan. Tentu saja ini mengurangi batas kekuatan maksimal tanggul untuk menahan tekanan air. Yang berarti bisa saja saat ketinggian permukaan air belum mencapai batas ambang kekuatan sebenarnya, tanggul sudah berada pada titik ambang tersebut dan tidak kuat lagi menahan tekanan air yang mengenainya. Keadaan seperti itulah yang terjadi.
Apabila kita cermati lagi, Geografi merupakan ilmu yang membahas tentang bumi, dengan demikian, dengan Geografi seharusnya telah mengerti akan karakteristik material yang menyusun bendungan Situ Gintung dan daerah di sekitarnya. Seperti, Material endapan sungai merupakan material lunak yang tingkat kerapatan antar molekul pengikatnya sangat rendah, sehingga daya tahan terhadap tekanannya juga sangat kecil dengan kata lain adalah lentur tetapi getas. Sudah tentu material ini sangat memerlukan perhatian khusus apabila akan dibuatkan bendungan di atasnya. Selain itu, material sedimen juga memiliki pergerakan yang aktif mengikuti aliran air yang mengenainya. Kondisi itu akan memberikan tambahan tekanan terhadap bendungan. Berat jenis air yang merupakan material utama yang akan dibendung mendapat tambahan dari material sedimen yang menjadikan berat jenis air itu sendiri bertambah. Bertambahnya berat jenis air berbanding lurus dengan tekanan yang diberikan.
Apabila kita telah memahami akan konsep tersebut, tentu kita akan mencari jenis perencanaan pembangunan apa yang cocok dilakukan di daerah seperti itu. Selain merencanakan pembangunan, kita juga bisa memilih dan mengatur penggunaan lahan serta pengelolaan lahan di daerah sekitar bendungan.
3. Penurunan Komoditas Pertanian dan Perkebunan di Indonesia
Mengapa swasembada beras dapat dicapai di masa pemerintahan Soeharto dan sulit terwujud untuk saat ini ? Sejak awal, swasembada beras selalu menjadi tujuan pemerintah
Pembangunan yang berlangsung begitu cepat dan seolah-olah mengejar suatu target pembangunan menjadi faktor utama mengapa produksi beras dan hasil perkebunan menurun di Indonesia. Pembangunan yang dilakukan oleh pemerintah Indonesia terlalu terfokus kepada pembangunan infrastruktur. Sebagai Negara berkembang, pembangunan infrastruktur memang sangat diperlukan. Infrasruktur yang dibangun diharapkan dapat menjadi modaluntuk kesejahteraan rakyat Indonesia. Tetapi, strategi pembangunan yang kurang mantab dan terkesan asal bangun malah menjerumuskan Indonesia dalam memenuhi kebutuhan pokok kehidupan yaitu hasil pertanian.
Pembangunan gedung-gedung dan fasilitas umum pendukung dilakukan hanya berdasarkan dari analisa letak yang strategis terhadap akses antar daerah tetapi kurang memperhatikan penempatan lokasi berdasarkan material penyusun lahan yang dibangun. Seandainya manajemen lahan dilakukan dengan tepat, maka pembangunan-pembangunan yang dilakukan akan mencapai titik optimal pada setiap sektor komoditas utama penentu kesejahteraan masyarakat.
Maksudnya, saat klasifikasi lahan dilakukan terlebih dahulu, maka analisa perencanan pembangunan wilayah dapat dilakukan untuk menentukan jenis pembangunan yang cocok pada masing-masing karakteristik lahan. Sesuai dengan dasar ilmu tanah dan geologi, alangkah baiknya apabila karakteristik lahan yang memiliki tingkat kesuburan yang tinggi tidak dibangun gedung, tetapi tetap difokuskan kepada peningkatan mutu tanaman (pertanian dan perkebunan). Dengan lebih spesifik lagi dilakukan klasifikasi lahan pertanian dan perkebunan akan ditemukan pasangan paling klop antara karakteristik lahan dengan tanaman yang akan ditanam. Dengan demikian, peningkatan mutu pertanian dan perkebunan akan lebih terfokus dan terus mengalami peningkatan.
Sedangkan untuk bangunan gedung lainnya dilakukan pada karakteristik lahan yang memiliki tingkat kesuburan lebih rendah. Sebab, pancingan satu jenis pembangunan gedung pada lahan subur, akan mendorong pembangunan gedung lain pada area yang berdekatan dan terus semakin intens. Dengan demikian, cepat atau lambat, dengan dipengaruhi fragmentasi lahan maka akan terjadi pengurangan luasan lahan subur secara terus menurus. Akibatnya, perlahan-lahan akan terjadi degradasi lahan yang terus memicu penurunan jumlah produksi pertanian secara nasional.
Lalu solusi yang dapat kita ambil adalah lebih memperhatikan karakteristik lahan dalam melakukan pembangunan dan jangan menyusup menuju lahan pertanian untuk mengkonversinya menjadi lahan terbangun. Klasifikasi jenis tanah untuk setiap jenis tanaman agar hasil produksi meningkat.
KESIMPULAN
1. Geografi merupakan ilmu yang dapat dijadikan dasar dalam manajemen lahan. Karena di dalam Geografi dipelajari tentang ilmu kebumian baik abiotik dan biotik serta hubungan dan interaksi yang terjadi di antara keduanya. Geografi juga memiliki studi aplikatif manajemen penggunaan lahan yaitu Perencanaan Pembangunan Wilayah.
2. Bencana alam yang terjadi di Indonesia sebagian besar berkaitan dengan kesalahan dalam manajemen lahan. Sehingga memicu bencana yang seharusnya dapat dihindari.
3. Klasifikasi lahan menurut karakteristik dan tujuan tertentu dapat membantu dan mempermudah dalam proses manajemen lahan untuk mendapatkan kesesuaian antara penggunaan lahan dengan karakteristik lahannya.
4. Perencanaan Pembangunan dengan menggunakan pendekatan Geografi akan memberikan masukan yang jelas akan hasil yang akan didapat pada kemudian hari.
5. Konsep Geografi dapat di aplikasikan pada setiap aspek kehidupan.
DAFTAR PUSTAKA
Rovicky., 2009. Kesamaan LuSi yang bandel dan Si Gintung ketika marah: http://rovicky.wordpress.com/2009
Ismail, Rachmadin. 2009. LIPI Teliti Penyebab Jebolnya Tanggul Situ Gintung : detikNews. http://www.detiknews.com/
Majid K, Abdul. 2009. Mencari Solusi Banjir Jakarta : suratPembaca. http://suarapembaca.detik.com/
http://www.geografiana.com/

Tidak ada komentar:
Posting Komentar